News Update :
Tampilkan postingan dengan label Headline. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Headline. Tampilkan semua postingan

Kuras Emas di Papua, Freeport Siap Rogoh Rp 153 Triliun

Penulis : Unknown on Kamis, 02 Agustus 2012 | 23.38

Kamis, 02 Agustus 2012

Jakarta - PT Freeport Indonesia siap menggelontorkan investasi tambangnya di Papua hingga US$ 8 miliar-US$ 17 miliar atau hingga Rp 153 triliun dalam tiga tahun mulai 2016-2018.

Hal ini disampaikan oleh Senior Manager Freeport Urusan Hubungan Pemerintahan Yuni Rusdinar dalam diskusi di Hotel Interncontinental MidPlaza, Jakarta, Kamis (12/7/2012).

"Untuk tahun 2016-2018 Freeport menyiapkan US$ 8-17 miliar untuk investasi tambang. Saat ini tambang Freeport 10 ribu hektar, sedangkan jatah dari UU Pertambangan 25 ribu hektar," ujar Yuni.

Dia mengatakan, sejak 1992 hingga 2011 Freeport telah membayar pajak US$ 13,8 miliar ke pemerintah Indonesia. Investasi yang telah dikeluarkan Freeport di Papua selama ini mencapai US$ 8,6 miliar. "Freeport berkomitmen untuk tidak mau menciutkan pertambangannya di Indonesia," jelas Yuni.

Pada kesempatan yang sama, Vice President Freeport Indonesia Rini Ranti menyatakan, Freeport saat ini belum berkeinginan untuk membangun pabrik pengolahan tambang (smelter) di Indonesia. Alasannya harga barang hasil pengolahan tambang (smelting) tidak kompetitif.

"Selama ini Freeport punya saham 25% di smelter di Gresik bekerjasama dengan Mitsubishi. Harga pasaran dunia untuk smelting 18 sen/pon, tetapi kita jual smelting 56 sen/pon, jadi terlalu mahal," jelas Rini (finance.detik.com)
komentar | | Read More...

Freeport Belum Sejahterakan Papua...!!!



JAYAPURA-Ketua Umum Forum Cendekia Muslimah Peduli ICMI Sulawesi Selatan, Sutina Made, Minggu (21/12) menilai PT Freeport Indonesia belum mensejahterakan rakyat Papua khususnya Mimika padahal kandungan emas, tembaga dan perak yang dibawa ke Amerika Serikat jauh lebih besar dari pembagian keuntungan yang diterima rakyat Papua. Freeport sendiri sudah berada di Papua sejak April 1967 melalui kontrak karya pertama dengan Pemerintah Indonesia dan Desember 1967 memulai eksplorasi di Grasberg, sambung Sutina Made. Pada Konferensi Nasional Muslimah Nasional di Makasar minggu lalu, Sutina membeberkan secara rinci kandungan emas kelolaan Freeport dan kemiskinan rakyat Papua serta menawarkan solusi pengelolaan kekayaan sumber daya alam demi kesejahteraan rakyat daerah itu. Data penduduk setempat memperlihatkan, 47,99 persen keluarga Papua dihimpit kemiskinan, sedangkan di Papua Barat proporsi penduduk miskin mencapai 36,85 persen yang kalau dijumlahkan penduduk miskin di dua provinsi itu mencapai 45,43 persen. Data juga mengungkapkan, produksi emas di Grasberg mencapai 86,2 juta ons, 32,2 juta tembaga dan 154,9 juta ons perak, namun ironisnya Papua tergolong provinsi miskin dan mayoritas penduduk Mimika di mana Freeport beroperasi, hidup di bawah garis kemiskinan. Pemerintah kehilangan triliunan rupiah setiap tahun, padahal keuntungan bersih perusahaan itu pada 2002 mencapai Rp 1,27 triliun, tahun 2003 naik menjadi Rp 1,62 triliun, berikutnya melonjak menjadi Rp 9,34 triliun. Sutina mengungkapkan, AS menguasai 81,2 saham PT Freeport Indonesia, sedangkan pemerintah Indonesia hanya 9,4 persen dan walaupun kontrak Freeport habis pada 1997, kontrak karya diperbarui di mana Freeport mendapat lisensi baru selama 30 tahun berikutnya, ditambah opsi dua kali 10 tahun sehingga perusahaan itu berhak berada di Tembagapura hingga 2041. "Para intelektual Indonesia khususnya cendekiawan Papua harus memberi solusi bagaimana sumber daya alam Papua dikelola secara adil," katanya. Indonesia, telah memberi keuntungan lebih besar kepada pihak asing ketimbang rakyat Papua, khususnya warga yang bermukim di sekitar tambang. Kini giliran intelektual Papua mengoptimalkan kemampuannya dalam menyelamatkan sumber daya alam Papua lewat promosi strategi managemen sumber daya alam yang lebih baik khususnya di areal tambang Freeport, dengan cara membangun sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat. "Dengan cara itu, sumber daya alam akan dimasukkan dalam kategori kepemilikan publik yang pengelolaannya diserahkan pada Negara dan hasilnya dikembalikan sebesar-besarnya kepada rakyat," ungkap Sutina Made,( kompas.com)

komentar | | Read More...

Kisah Amerika & Indonesia Kuasai Papua...!!!



Jakarta-Indonesia merdeka dari cengkraman penjajah Belanda pada 17 Agustus 1945. Namun, baru akhir tahun 1949, Kerajaan Belanda rela menyerahkan semua bekas jajahannya ke Indonesia, kecuali wilayah Papua Barat. Atas peran Amerika Serikat dengan Perjanjian New York, akhirnya pada tahun 1962, Belanda menyerahkan Papua Barat ke Indonesia. Buntutnya, tahun 1967, Pemerintah Indonesia memberikan kontrak penambangan tembaga dan emas di Papua, selama 30 tahun. Amerika benar, karena hampir tidak ada satu pun jenis kekayaan alam yang tidak ada di perut bumi Papua. Masih menurut sejarah, bicara kandungan sumber daya mineral dan energi di perut bumi Papua, sudah dikenal luas sebelum perang dunia kedua. Saat itu, tentu saja minyak bumi adalah komoditas yang paling diburu untuk dieksploitasi.Alkisah, pada tahun 1936, dalam ekspedisi pencarian minyak bumi, seorang geologist Belanda bernama J.J. Dozy, menemukan sebuah bukti yang kaya akan unsur tembaga. Sampel dari pegunungan itu pun dibawanya untuk diteliti di Universitas Leiden Belanda. Hasilnya? Alamak, luar biasa menakjubkan. Di situ ditemukan kandungan tembaga sebanyak 13 juta ton di atas permukaan tanah dan 14 juta ton di perut bumi. Tak berlebihan bila Dozy menamai gunung temuannya itu Erstberg alias gunung bijih.Entah gimana ceritanya, pada tahun 1960, publikasi Dozy dibaca oleh Fobes Wilson dari Freeport Sulphur Corporation. Sebuah perusaahan pertambangaan yang berdiri tahun 1912 di Amerika Serikat. Awalnya, Freeport adalah penambang belerang yang -pada tahun 1940- mengembangkan sayapnya dengan membuka pertambangan Nikel di Kuba. Namun selanjutnya, pemimpin Kuba Fidel Castro, mengambil paksa tambang nikel di negaranya dari tangan Freeport. Sejak itu, hasil dari berbagai tambang Freeport terus saja mengalami penurunan. Eh, ndilalah, di tengah kelesuan begitu, Fobes Wilson membaca catatan peneliti Belanda tadi. Tak piker panjang, Wilson pun langsung menelusuri tanah Papua.Di saat yang sama, masih terjadi sengketa wilayah Papua Barat di mana Kerajaan Belanda belum mau menyerahkannya kepada NKRI. Di sinilah mulai muncul peran Amerika Serikat yang secara politik, berkepentingan agar Indonesia berganti haluan menjadi negara lebih pro-barat, ketimbang pro uni soviet dengan paham komunisme mereka. Lewat diplomat AS, Elsworth Bunker, akhirnya terselenggara Perjanjian New York, pada 15 Agustus 1962, yang menetapkan kesediaan Kerajaan Belanda per 1 oktober 1962, menyerahkan wilayah Papua Barat kepada NKRI.tak lama setelah itu, gejolak politik dalam negeri Indonesia pun seiring dengan keinginan Amerika Serikat. Komunisme yang sempat mendominasi peran politiknya di Indonesia era Soekarno, lenyap seketika dan memunculkan Soeharto sebagai pemimpin Indonesis generasi berikutnya.Tak lama berkuasa, Presiden Soeharto langsung menerbitkan UU Nomor 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, sebagai jalan yang dianggap paling cepat guna menumbuhkan pembangunan ekonomi. Gayung pun bersambut. Pada tanggal 7 April 1967, Freeport mempunyai hak ekslusif kontrak karya penambangan batubara seluas 10 ribu hektar di sekitar Gunung Eistberg dan Grasberg, selama 30 tahun, dengan kemungkinan diperpanjang minimal 2 kali 10 tahun. Saat itu, Freeport yang berkomitmen untuk menyalurkan dana investasi tambangnya sebesar 25 milyar dollar As, mulai melakukan pengeboran sebagai bagian dari studi kelayakan. Dalam rentang 1969-1972, produksi Freeport baru mencapai 8.000 ton bijih per hari, kemudian meningkat menjadi 18 ribu ton bijih per hari.Tahun 1988, Freeport menemukan adanya cebakan endapan tembaga dan emas dengan cadangan lebih dari 400 metrik ton. Dengan alasan membutuhkan tambahan dana investasi yang kelewat besar, Freeport mulai mengurus perpanjangan kontrak karya untuk 30 tahun kedua. Namun, pada tahun 1991, pemerintah lewat Menteri Pertambangan dan Energi saat itu Ginandjar Kartasasmita, terlebih dulu merevisi kontrak karya pertama. Sepintas ada angin segar dalam revisi kali itu. Dalam kontraknya, Freeport diwajibkan untuk menjual sahamnya kepada pihak Indonesia secara bertahap, hingga mencapai 51 persen.Celakanya, pemerintah justru mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 tahun 1994, yang isinya bertolak belakang dengan isi revisi kontrak tadi. Yakni, PMA tidak diwajibkan untuk mendivestasi sahamnya kepada pihak Indonesia. Dus, Freeport pun berlindung dibalik PP tersebut, untuk tidak menjual saham kepemilikannya kepada Indonesia. Tidak hanya itu. Pada saat itu pula, PT Irja Eastern Minerals Corporation, yang tidak lain anak perusahaan Freeport, juga mengantungi kontrak karya selama 30 tahun, atas lahan eksplorasi seluias satu juta hektar, di kawasan Teluk Etna, hulu sungai Tariku dan sungai Kembau. Penguasaan Freeport atas tambang emas dan tembaga di Papua, kian moncer menyusul pada tahun 1996, kontrak kerja Freeport diperpanjang untuk 30 tahun kedua. Bahkan, Freeport kembali mendapat lahan ekplorasi tambahan, menjadi dua blok. Blok A di wilayah Gunung Grasberg dan Etsberg seluas 10 ribu hektar, serta Blok B mencakup seluruh dataran tinggi hingga perbatasan Papua Niugini, seluas dua juta hektar. Freeport Akuisisi Mc Moran Oil and Gas..?? Yang jelas, dari hasil tambangnya di Papua, Freeport yang sempat menurun, akhirnya berhasil mengakuisisi Mc Moran Oil and Gas. Namanya pun berubah menjadi Freeport Mc Moran Cooper and Gold Incorporation.Celakanya, komposisi kepemilikan saham PT Freeport Indonesia, tidak ada yang berubah. Yakni 81,27 persen milik Freeport Mr Moran, 9,36 persen milik pemerintah Indonesia dan 9,36 persen milik PT INdocopper Investama Corporation sebagai swasta Indonesia. Sementara komposisi saham Indocopper, terdiri dari 50,48 persen milik PT Nusamba Mineral Industri, 49 persen dikuasai Freeport Mc Moran dan 0,52 persen milik publik. Asal tahu, Nusamba Mineral Industri adalah anak perusahaan Nusamba Group. Kelompok usaha yang dikenal sebagai milik pengusaha Bob Hassan. Padahal, Bob Hassan hanya memiliki 10 persen saham di Nusamba. Selebihnya, dikuasai sejumlah Yayasan milik Cendana. Penguasaan Nusamba atas Indocopper berawal dari tahun 1995, ketika Kelompok Bakrie sebag melepas sahamnya di Indocopper lewat Bursa Efek Surabaya. Yang pasti, pilihan Freeport atas Papua sangat tepat. Betapa tidak. Deposit emas di perut bumi Papua, diakui sebagai kandungan terbesar di dunia. Gunung Grasberg saja, mengandung 2,8 milya metric ton bijih emas. Dari situ, gunung Grasberg berpotensi menghasilkan uang sedikitnya 250 trilyun. Jangan heran, bila keuntungan bersih Freeport bisa mencapai 463 juta dollar Amerika setiap tahunnya. Ke mana dana Freeport mengalir..?? Tidak ada kejelasan seberapa besar dana Freeport yang diserahkan kepada negara selama ini. Tidak jelas pula bagaimana komposisi pembagian hasilnya. Yang pasti, pihak Freeport mengaku telah memberikan dana awal sebesar 2,5 juta dolar Amerika pada dana abadi untuk peningkatan kesejahteran dan fasilitas pendidikan warga papua. Belum lagi, dana satu persen atas pendapatan bruto perusahaaan, rata-rata sebesar USD 11-18 juta per tahun sebagai bantuan atas dunia pendidikan, kesehatan, usaha kecil dan pembangunan infrastruktur warga papua. Tak jelas, kemana dana-dana tersebut mengalir selama ini. Di tengah ketidakjelasan itu, mendadak justru muncul angina panas ichwal pengeluaran tidak wajar atas audit keuangan Freeport Mc Moran Cooper and Gold Incorporation. Dalam laporannya kepada otoritas pasar modal Amerika Serikat, pada tahun 2001, Freeport Mc Moran mengaku telah menyetor dana khusus ke pihak aparat keamanan TNI sebsar USD 4,7 juta. Setoran dana ini meningkat lagi menjadi USD 5,6 juta pada tahun 2002. Tidak hanya itu. Menurut The New York Time, dalam kurun waktu 1998-2004, tak kurang USD 20 juta sudah dikeluarkan Freeport untuk alokasi kebutuhan keamanan di Papua. Tidak hanya Freeport di Papua..?? Tidak terbayangkan bila aliran dana siluman jutaan dollar Amerika itu sama sekali tidak menyentuh warga papua. Meskipun, otonomi khusus yang diberlakukan sejak 2001 lalu, memberikan kewajiban hasil 70 persen yang menjadi hak pemerintah daerah Papua.Padahal, tidak hanya Freeport yang mengekplorasi kekayaan alam di Papua. Sebut saja British Petroleum (Inggris) yang berkuasa atas proyek Gas Alam Cair di Kawasan Tangguh, JAPEK (Jepang) yang melakukan ekspor gas alam dan mengirimkan ke pasar domestic Indonesia), PT Gag Nikel (Australia), Conoco Philip yang berhak atas eksplorasi migas di kawasan Bintuni, Mamberamo (Australia) yang beroperasi di sector kehutanan, KNOC (Korea) sebagai produser minyak dan gas, serta Global Santa Fe yang mengoperasikan tambang minyak Klamono di Papua. Belum lagi 48 perusahaan pemegang HPH yang berhak atas pengelolaan hutan di bumi Papua. Hingga akhir tahun 1999, sedikitnya terdapat 24 wilayah kotrak karya dan tiga wilayah perjanjian karya pengusahaan Pertambangan Batubara dan empat wilayah kuasa pertambangan. Pada tahun 2001, kembali terjadi penambahan sebanyak 17 wilyah kontrak karya dan kuasa penambangan.Pertanyaannya adalah, akankah rakyat Papua tetap miskin di tengah kekayaan yang melimpah? Akankah pula pemerintah kita tetap berdiam diri di tengah gejolak Papua yang kian ditunggangi kepentingan internasional? Padahal pemerintah sudah mendapat informasi itu. Tengok saja cerita AMien Rais yang enam bulan lalu, bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saat itu, Amien menyampaikan informasi yang diterimanya dari mantan Perdana Menteri Australia Paul Keating, kepada SBY.“Waktu saya ke Sidney, saya bertemua Paul Keating. Dia simpatisan Indonesia. Saya ingat betul kata-kata dia. Mr Rais, saya agak konsen dan prihatin dengan Indonesia. Karena saya tahu ada sirkel-sirkel politik tertentu di dekat Anda, negara tetangga Anda, termasuk Australia, dan juga negara-negara tetangga jauh, yang dulu instrumental dan fungsional saat membetot Timor Timur dari Indonesia. Dan, sekarang mereka bekerja untuk hal yang sama di Papua,” ujar Amien menirukan Paul Keating.Apa reaksi pemerintah atas informasi tersebut? Entahlah. yang pasti, kalau memang pemerintah bergeming, ya apa boleh buat ndoro mister.(catatan Rahmat)
komentar | | Read More...

GENERASI BARU,PARADIKMA BARU,CARA CERDAS & LEGAL,MENUJUH KEMERDEKAAN HAKIKI & SETUHNYA,NKRI & PAPUA TANPA AMERIKA

Penulis : Unknown on Sabtu, 28 Juli 2012 | 12.16

Sabtu, 28 Juli 2012



-Politik terdiri dari kepentingan, untuk sebuah kepentingan Amerika Papua di korbankan dan bukan dititpkan ke Belanda sebagai koloni waktu itu juga bukan Australia yang terdekat tetapi kenapa di serahkan kepada Indonesia....? Karena mereka kenal betul watak pejabat NKRI yang gampang dipasung hidung seperti kerbau, jadi musuh bersama Rakyat Indonesia dan Rakyat Papua adalah bukan saja Amerika tetapi juga pejabat jakarta yang egois bisanya memikirkan kantong dan perut mereka dan cuek dengan Rakyatnya..yang melarat. Lawan Amerika dan Antek-anteknya di Jakarta. dan mari kita berpikir dengan pikiran temah : KEJAYAAN BANGSA INDONESIA 
- DAN KEJAAN BANGSA PAPUA TANPA BARAT DENGAN KAPITALISME, IMPERIALISME, LIBERALISME....HIDUP PAPUA-HIDUP INDONESIA

- karena kemarin Indonesia tidak menghargai Papua maka Papua tidak menghargai indonesia melalui Pepera yang cacat Hukum dan cacat moral, jika indonesia mau di hargai papua maka hargailah rakyat Papua sebagai manusia yang punya hak politik melalui REVERENDUM yang final apapun hasilnya atau jika kita mau lihat dari kepentingan yang lebih besar maka : lebih baik kita ataur baik hubungan kedua negara yang saling menguntungkan, tanpa Negara asing yang tidak bisa kontibusi/menguntungkan...?

- STOP AMERIKA DAN PEJABAT JAKARTA MENARI DI ATAS PENDERITAAN RAKYAT INDONESIA DAN PAPUA. !!!!
 
-MARI KITA BENTUK FRONT PERLAWANAN RAKYAT INDONESIA-RAKYAT PAPUA UNTUK RUNTUHKAN : KAPITALISME, LIBERALISME, IMPERIALISME , AMERIA - PEJABAT JAKARTA !!!!!!!!!

-"Hargailah aku jika Anda mau dihargai, senyumlah kapadaku jika anda mengharapkan senyum dariku, berilah apa yang saya harapkan jika anda mengharapkan saya beri apa yang anda harapkan, cintailah aku jika anda mengharapkan cinta dariku, taburlah yang baik jika anda mengharapkan tuaian yangbaik pula...ingat hukum Tabur Tuai"(catatan facebook Hakim Pahabol)


 

 


komentar | | Read More...

Video Kekerasan TNI Terhadap Orang Papua..!!!

Penulis : Unknown on Rabu, 25 Juli 2012 | 04.04

Rabu, 25 Juli 2012



Jayapura-Mengenai adanya video kekerasan yng terjadi di Papua oleh para TNI,kini tengah beredar luas di dunia maya. Video ini mempertontonkan kekerasan dan penyiksaan terhadap warga papua yng tak berdosa, yng diduga dilakukan oleh beberapa oknum TNI. Benarkah?

Video Kekerasan TNI Di Papua ini berdurasi 4 menit 47 detik itu beredar di situs Youtube 17 Oktober selama sehari hingga Senin siang 18 oktober. Namun kemudian video kekerasan TNI di papua itu dicabut dan muncul kembali dalam versi satu menit.
Dalam tayangan Video Kekerasan TNI Di Papua tersebut berjudul ‘Indonesian Army Attacking West Papuan Civilians in Highland Region’ yng menggambarkan sekelompok pria berpakaian seperti tentara memukul bertubi-tubi kepala korban dengan helm tentara, juga menendang secara tertubi-tubi pula.“Saya di sini berdasarkan tugas. Tugas negara,”

Teriak salah satu pelaku TNI yng melakukan kekerasan di papua dengan menggunakan bahasa Indonesia di dalam video tersebut. Sementara warga Papua yng lain dibaringkan di tanah tanpa pakaian, kaki dan tangan diikat, parang diletakkan di leher mereka dan terus di tanyai tentang tempat penyimpanan senjata milik kelompok separatis organisasi Papua Merdeka (OPM).

Disampaikan Kapuspen TNI, Mayor Jenderal TNI Aslizar Tanjung, saat ini TNI melakukan penyelidikan intensif tentang waktu, tempat, kebenaran dan keaslian video tersebut. Identifikasi dilakukan agar informasi tentang video itu tidak menyesatkan masyarakat luas baik dari Indonesia sendiri maupun luar negeri. Bila terbukti terdapat oknum TNI yng terlibat dalam video kekerasan TNI di papua tersebut, maka dipastikan pimpinan TNI akan mengambil tindakan tegas sesuai hukum yng berlaku.

Menurut Roy Suryo, pakar telematika Video Kekerasan TNI di Papua di ragukan keasliannya. Sejumlah hal yng meragukan dari tindak kekerasan dalam video tersebut antara lain dialog yng dilakukan sangat tidak sesuai. Kemudian tanda kepangkatan pada seragam pelaku yng letakny tidak sesuai dengan yng seharusny.
“Memang yang melakukan tindak kekerasan menggunakan baju loreng seperti halnya anggota TNI . Tapi dari hasil analisis saya, banyak hal yng sangat meragukan sehingga kebenaranny patut dipertanyakan,” Ungkapny.berikut linknya video tersebut “http://www.youtube.com/watch?v=gVUibPJq16U
komentar | | Read More...

Pakage: Indonesia Mau Orang Papua Mati Habis..!!!

Penulis : Unknown on Senin, 23 Juli 2012 | 06.58

Senin, 23 Juli 2012



Jayapura-Setelah kemarin, Kamis (19/7) aparat kepolisian membubarkan paksa aksi kemanusian untuk pengobatan tahanan politik (Tapol) yang diselenggarakan Solidaritas Korban Pelanggaran HAM Papua (SKPHP) di Jalan Raya Abepura, kini aparat kembali membuat ulah.

Tadi siang, Jumat (20/7) sekitar pukul 11.30 WIT, aparat Kepolisian Resort Kota Jayapura kembali membubarkan paksa aksi kemanusian yang dibuat SKPHP, dan mengangkut sekitar 15 orang peserta aksi beserta perangkat aksi dan di interogasi kurang lebih satu jam lamanya di Polresta.
Yusak Pakage, salah satu mantan tahanan politik Papua yang ikut diinterogasi polisi membenarkan tindakan polisi yang sangat brutal dan tidak manusiawi.

“Surat pemberitahuan aksi sudah dilayangkan ke polisi sejak beberapa hari lalu, namun pihak aparat sendiri sengata tidak menerbitkannya. Sama saja mereka tidak mau kami buat aksi amal  untuk pengobatan tahanan politik.

Aksi kami adalah aksi kemanusian, bukan aksi politik, ini yang perlu dipahami oleh aparat kepolisian di tanah Papua,” kata Pakage.

Pakage melanjutkan, Indonesia walaupun di kenal sebagai negara hukum dan demokrasi, semua itu hanya diatas kertas saja, sebab selama ini ruang demokrasi di tanah Papua ditutup sangat rapat.

“Tujuan pemerintah Indonesia adalah menghabisi orang Papua, salah satu contohnya walaupun tahanan politik sakit keras, namun tidak ada perhatian, artinya pemerintah Indonesia mau orang Papua mati habis,” ujar Pakage yang pernah dipenjara lima tahun lamanya.

Melihat situasi Papua yang semakin genting, Pakage justru meminta agar ada intervensi dunia internasional, dalam hal ini Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk dapat segera menyelesaikan persoalan Papua.

Selain itu, Pakage juga mengajak siapa saja yang mempunyai rasa kemanusiaan untuk membantu para Tapol, salah satunya seperti Filep Karma yang mengalami sakit parah di LP, namun tidak punya uang untuk berobat ke RS Cikini di Jakarta.

Kapolresta Jayapura, AKBP Alfred Papare, S.Ik, ketika dikonfirmasi wartawan terkait pembubaran paksa aksi SKPHP di Taman Imbi, tidak bersedia memberikan tanggapan. Pesan singkat yang dikirim juga tidak dibalas.

OKTOVIANUS POGAU
komentar | | Read More...

Ini Ketua Umum dan Ketua I KNPB Yang Baru

Timika-Hasil Kongres Luar Biasa (KLB) Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang berlangsung di Mimika, Papua, pada tanggal 18 – 21 Juni 2012 telah memilih dan menetapkan Victor Yeimo sebagai Ketua Umum KNPB.Victor Yeimo yang sebelumnya menjabat sebagai Juru Bicara Internasional KNPB dipilih dan ditetapkan menggantikan posisi Buctar Tabuni yang kini telah menjabat sebagaii Ketua Parlemen Nasional Papua.

Sedangkan, jabatan Ketua I KNPB yang awalnya di duduki oleh almarhum Musa MakoTabuni, kini telah digantikan oleh Agus Kossay, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua KNPB Wilayah Sentani, Papua.
Romario Yatipai, Ketua badan formatur KLB yang dihubungi suarapapua.com, Jumat (20/7) membenarkan hasil KLB yang telah berjalan dengan baik, dan telah memilih dan menetapkan Victor Yeimo sebagai Ketua Umum KNPB dan Agus Kossay sebagai Ketua I KNPB.

“Ini hasil kesepakatan semua utusan KNPB dari Sorong sampai Merauke. Ada sekitar 200an peserta yang ikut dalam KLB, mereka adalah anggota KNPB, anggota Parlemen Nasional, dan simpatisan KNPB,” ujar Romario.Romario menjelaskan, Bucthar Tabuni yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Umum KNPB diberhentikan karena saat ini ia telah menjabat sebagai Ketua Parlemen Nasional.

Lanjut Romario, KNPB sebagai media rakyat Papua memerlukan figur yang benar-benar dapat membawah rakyat Papua ke arah yang baik dan benar, sehingga KLB dipandang perlu segera dilakukan.
Dengan terpilihnya Victor Yeimo sebagai Ketua Umum KNPB, Romaria secara pribadi berharap Victor Yeimo dapat membawah rakyat Papua sesuai rel yang ada dan tinggal melanjutkan perjuangan yang telah di rintis almarhum Mako Tabuni dan Buctar Tabuni.

“Tetapi secara khusus lagi saya berharap Viktor Yeimo dapat membawah rakyat Papua dengan profesional, demokrtik dan bermartabat,” ujar Romario yang juga sebagai Ketua KNPB Timika.(Suara Papua.Com)


komentar | | Read More...

Persipura kecewa & bangga tentang Titus Bonai Merumput di Thailand

Penulis : Unknown on Minggu, 22 Juli 2012 | 16.59

Minggu, 22 Juli 2012

JAKARTA - Sedikit kecewa, namun bangga, itulah perasaan klub Persipura Jayapura saat mendengar pemainnya, Titus Bonai, akan dikontrak klub Thailand, BEC Tero Sasana,
Tibo sudah membenarkan rumor kepindahannya, namun disayangkan tidak meminta izin, meski masih terikat kontrak hingga September mendatang.

“Tibo sampai sekarang belum dilepas Persipura, andaikan dia dikontrak Oktober (Persipura takkan kecewa), kalau klub yang mengontraknya tahu, dia harus bertanggung jawab dulu,” ujar Sekretaris Umum Persipura, Thamrin Sagala, baru-baru ini,“Kami tidak akan tahan-tahan, yang penting kontrak dia berakhir baik-baik sampai September,” lanjutnya.

Meski demikian, tim berjuluk ‘Mutiara Hitam’ itu tidak akan menyeret masalah ini lebih jauh. “Kami adalah tim yang damai. Kalau memang orang dia yang bersalah, suatu saat orang itu akan tersandung,” tambah Thamrin,Tak hanya Tibo, terang Thamrin, agen sang pemain pun sama sekali tidak menghubungi Persipura soal kepindahan ini. Meski demikian, sebagai klub yang mengembangkan bakat dan membesarkan nama Tibo, Papua tetap senang dengan perkembangan karir pemain berusia 23 tahun tersebut.

“Itu adalah bukti kontribusi Persipura bagi sepak bola nasional. Kami sendiri akan selalu merekrut pemain-pemain berbakat. Dia matang ditempat kami. kami yang memberinya kesempatan bertanding di luar negeri. Kalo dia merasa Persipura berjasa padanya, paling tidak dia harusnya bilang pamit sebagai lambang persahabatan, lanjutnya.(WASPADA ONLINE)
komentar | | Read More...

Uskup: Tidak benar kepala suku Asmat masuk Islam

Pemimpin Gereja Katolik Keuskupan Agats-Asmat, Papua, Mgr Aloysius Murwito OFM, membantah sejumlah pemberitaan di media massa yang mengklaim kepala suku besar Asmat masuk Islam.Bantahan ini disampaikan Mgr Aloysius melalui surat klarifikasi yang dikirm kepada tokoh-tokoh lintas agama, pemerintah, dan pihak keamanan di Papua.
“Menyimak pemberitaan yang dimuat oleh sejumlah media online (dakwatuna.com, Arrahmah.com) mau pun media cetak (Banten Post, Republika) dan elektronik (TVRI) tentang Kepala Suku Besar Asmat Masuk Islam, sungguh disayangkan karena tidak benar. Mungkin ada benarnya bahwa ada orang Asmat dari Kampung Per bersama keluarganya sebagaimana diberitakan masuk Islam, tetapi bahwa dia adalah seorang kepala suku besar Asmat sungguh suatu kekeliruan atau kesalahan,” ujar Mgr Murwito dalam surat klarifikasi itu, seperti dilansir theindonesianway.com.
Menurut Mgr. Aloysius, pengakuan atau gelar Kepala Suku Besar Asmat yang diberikan kepada Sinansius Kayimter (Umar Abdullah Kayimter) tidak benar. Pernyataan atau pemberitaan itu adalah sebuah kebohongan publik karena tidak pernah terjadi dan tidak pernah ada dalam kebudayaan suku Asmat sampai dengan saat ini. Gelar kepala suku hanya diberikan, berlaku dan terbatas dalam satu rumpun saja. Bahwa media kemudian memberitakan dia sebagai Kepala Suku Besar Asmat, adalah bentuk kebohongan belaka.
Berdasarkan dokument resmi Gereja Katolik Keuskupan Agats-Asmat, saudara Sinansius Kayimter (Umar Abdullah Kayimter) adalah warga biasa yang lahir di Per pada 13 Desember 1962 dan dibaptis dalam Gereja Katolik pada 31 Januari 1963 oleh Pastor Miller OSC. Sebagai saksi pembaptisan waktu itu adalah bapak Mikael Apakci. Data kelahiran dan baptisan ini tercatat dalam buku Baptis Paroki Ewer No. LB. IV. 5988, tahun 1963.
“Kami sangat menyesal dan menyayangkan berita yang sensasional itu. Berita ini hemat kami sangat tendensius dan provokatif, dimana dengan mengatakan bahwa Kepala Suku Besar Asmat masuk Islam seolah-olah semua orang Asmat telah masuk atau menjadi Islam. Kami mau mengatakan bahwa berita soal Sinansius dan keluarganya menjadi Islam mungkin benar tetapi bahwa dia seorang Kepala Suku Besar Asmat adalah suatu yang tidak benar, tidak objektif dan merupakan suatu kebohongan public yang direkayasa oleh orang tertentu, kelompok tertentu dan media yang memberitakannya,” lanjut Mgr Aloysius.
“Pemberitaan sensasional yang keliru atau salah ini, langsung mau pun tidak langsung, memiliki dampak religius, sosial dan kultural dalam kehidupan bersama di Asmat. Menyadari semua itu maka kami sebagai Uskup Keuskupan Agats yang adalah Pemimpin Tertinggi Gereja Keuskupan Agats – Asmat ingin menyampaikan beberapa klarifikasi dan harapan atau himbauan kepada kita semua khususnya MUI Asmat dan Kepala Penyelenggara Islam Kantor Kementrian Agama Kabupaten Asmat, demi terciptanya kerukunan, toleransi dan persaudaraan sejati dalam hidup bersama di tanah Asmat ini,” tutur Mgr Aloysius.
Mgr Aloysius juga mengharapkan agar pimpinan MUI dan Ketua Penyelenggara Agama Islam di Kantor Kementrian Agama Islam Kabupaten Asmat bisa meneruskan dan mengklarifikasi berita ini kepada media online dan sura kabar yang telah membuat pemberitaan yang tidak benar itu. Intinya bahwa Sinansius Kayimter (Umar Abdullah Kayimter) yang telah menjadi Islam setelah melalui upacara pengukuhan pada tanggal 19 Pebruari 2012 di Masjid Darussalam, Jati Bening, Bekasi, Jawa Barat dengan didampingi oleh Ustadz Fadhlan Garamatan dan Imam Masjid Istiqlal Ali Hanayiah, sesungguhnya bukan Kepala Suku Besar Asmat.
Keuskupan Agats juga meminta kepada saudara-saudari muslimin dan muslimah agar tetap menjaga toleransi, kerukunan dan persaudaraan antara umat beragama dan masyarakat di Asmat dengan menyampaikan, menyiarkan, mengajarkan, memberitakan segala sesuatu dan khususnya berkaitan dengan agama atau iman kepercayaan yang bersentuhan dengan agama atau kepercayaan lain secara objektif dan akurat.
“Jangan kita hanya menyebarkan berita bersifat isapan jempol, sensasional dan tendensius yang bisa berdampak pada disharmonitas dan konflik sosial di kalangan masyarakat Asmat dan Papua pada umumnya. Perlu diketahui dan disadari bersama bahwa semua masyarakat di Asmat telah memiliki iman dan menganut agama atau kepercayaan tertentu (tidak ada yang khafir). Untuk itu mari kita saling menghargai dan mendukung satu sama lain dalam ranah hidup bersama dengan semangat persaudaraan dan toleransi,tambahnya prelatus itu,(UCAIN INDONESIA)

komentar | | Read More...

Blogger news

Categories

About

Blogroll

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. majalah Papua . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger