News Update :
Tampilkan postingan dengan label KP HAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KP HAM. Tampilkan semua postingan

Jayapura Ibu & Anak diculik oleh Polisi Indonesia

Penulis : Unknown on Jumat, 27 Juli 2012 | 17.00

Jumat, 27 Juli 2012



JAYAPURA-Ibu Kristina Kogoya dan anaknya Wene Lokpere berumur 5 tahun telah ditangkap dan diculik oleh Militer dan Polisi Indonesia Spesial  Anti Terorist unit 88 di Jayapura, pada hari Kamis, ( 26/7/ 2012), pukul 08:00 Waktu Papua,  ketika Ibu Kristina dan anaknya sendang mengikuti persidangan Ketua KNPB di Pengadilan Negeri Jayapura - Papua dini hari.
Ibu Kristina berusaha meliput berita persidangan  ketua KNPB Buchtar Tabuni di kota Jayapura dan saat itu juga Militer dan Polisi Indonesia secara paksa dibawah todongan senjata oleh aparat Special Anti Terorist Unit 88 dan Militer Indonesia yang telah dilatih khusus oleh Pemerintah Amerika Serikat dan Pemerintah Australia telah berhasil menangkap dan menculik seorang ibu dan anaknya.
Dalam persindangan ini semua aktivist tidak diizinkan untuk mengikuti dan meliput persidangan ketua KNPB Buctar Tabuni. Tetapi ibu Kristina Kogoya merasa simpati dan sebagai seorang Ibu Papua yang selama ini turut merasakan penderitaan rakyat Papua. Maka ia memberanikan dirinya untuk hadir dalam persidangan tersebut. Tetapi tidak disangka saat itu juga ibu Kristina dan anaknya telah di tangkap dan diculik oleh militer dan Polisi Indonesia.
Special Anti Terorist unit 88 yang juga telah turut menembak mati Wakil Ketua Mako Tabuni pada bulan Juni (14/6/2012) bulan lalu di Perumnas 3 Waena ketika saat keluar dari rumahnya. Pasukan ini juga telah berhasil menculik Desi Kogoya seorang putri berumur 8 tahun dan sampai saat ini Desi Kogoya hilang dan tidak pernah dipulangkan kembali ke pihak keluargannya oleh aparat special  anti terorist unit 88 Indonesia.
Pihak ini dilatih khusus untuk menangkap, menculik, membunuh, menteror seluruh orang Papua agar jangan menyuarakan aspirasi Papua Merdeka atau referendum yang selama ini dikampanyekan oleh seluruh rakyat Papua dibawah organisasi KNPB sebagai media nasional rakyat Papua ditingkat Nasional dan Internasional.
Karena ketakutan, jika isu Papua Merdeka dan persidangan Ketua KNPB Buctar Tabuni jangan sampai diliputi oleh rakyat Papua, dan rakyat didunia Internasional maka, mereka telah menangkap dan menculik Ibu Kristina Kogoya dan anaknya Wene Lokpere.
kami menyampaikan kepada  teman-teman diseluruh dunia baik didalam negeri maupun diluar negeri untuk menyebar luaskan berita ini, atas penangkapan dan penculikan seorang ibu dan anaknya yang sedang berumur 5 tahun tanpa alasan yang tidak jelas.
Sampai hari ini, Militer dan Polisi Indonesia masih dan sedang melakukan operasi besaran-besaran untuk menangkap dan menembak mati seluruh aktivist KNPB, aktivis HAM, dan seluruh orang Papua. Situasi rakyat Papua dalam keadaan yang sangat bahaya dari kebrutalan Militer dan Polisi Indonesia diseluruh tanah Papua.
Menurut informasi yang kami terima dari lapangan bahwa, ibu dan anaknya diinformasikan akan dibebaskan pada siang hari ini, tetapi kenyataannya Militer dan Polisi Indonesia telah melakukan penipuan terhadap pihak keluaraga ibu Kristina dan anaknya.
Sampai berita ini diturunkan belum ada informasi yang jelas dan mereka telah kehilangan jejak, bahkan telepon gengam miliknya tidak berfungsi lagi.
Kami memohon kepada teman-teman semua untuk mempertanyaakan Militer dan Kepolisian Indonesia di Papua atas penangkapan dan penculikan ibu Kristina Kogoya dan anaknya Wene Lokpere yang masih berusia 5 tahun.(warta papua Barat)

komentar | | Read More...

Tragedi Dogiyai : 2 Orang Warga Sipil Tertembak Mati Aparat Kepolisian

Penulis : Unknown on Rabu, 25 Juli 2012 | 09.19

Rabu, 25 Juli 2012


Latar Belakang Peristiwa

Peristiwa bentrok warga sipil dengan aparat kepolisian ini dipicu oleh adanya bisnis Togel (perjudian dengan karcis) di wilayah Lembah Kamu, Kabupaten Dogiyai. Permainan Togel atau judi karcis ini sebenarnya illegal.
Sejak Tahun 2010, Dewa,  seorang pengusaha asal Bali telah mendirikan bisnis Permainan Togel (Bayar Karcis dengan bayar Rp.5000,-  kalau menang  4 angka   mendapat Rp.10 000 000,- dan Lain-lain). Karena bisnis togel ini menarik minat warga Lembah Kamu, maka Dewa membuka beberapa agen bisnis togelnya di sekitar ibu kota Kabupaten Dogiyai, Moanemani, Lembah Kamu.
Selama Bisnis Togel ini berlangsung pihak  aparat Kepolisian  tidak pernah memberi  teguran kepada Dewa ataupun memprosesnya secara hukum mengingat bisnis ini illegal dan bertentangan dengan hukum Negara. Bukan menjadi rahasia lagi bahwa oknum aparat kepolisian setempat juga mendapatkan keuntungan atau kena percikan keuntungan juga dari bisnis togel tersebut.
Untuk menjalankan bisnisnya, Dewa juga merekrut beberapa orang warga lokal untuk menjadi agen-agennya. Salah satu dari warga lokal yang dipercayakan sebagai agen adalah  Dominikus Auwe, untuk menjadi  salah satu agen  di sekitar pasar dan Kompleks Pasar Moanemani.
Kronologi Peristiwa
Pada  Tanggal 13 April 2011 sekitar pukul 9.00 pagi, Dominokus Auwe menjual kupon togel sangat banyak dan laku keras karena warga masyarakat sekitar banyak yang membeli dalam jumlah besar. Dari penjualan tersebut, Dominokus mendapatkan uang sangat bayak.  Tiba-tiba datanglah aparat kepolisian dari Polsek Moanemani ke tempat penjualan togel dan permainan Seme (dadu) tersebut dan tanpa banyak bicara ataupun member teguran, aparat polisi langsung merampas uang milik Dominokus Auwe dan uang dari tempat permaian Seme tersebut dan langsung dibawa ke Polsek Moanemani.
Merasa rugi karena uangnya telag diambil oleh aparat polisi, Dominokus segera menyusul ke kantor Polsek Moanemani untuk meminta kembali uangnya. Sesampai di kantor Polsek Moanemani, Dominokus lagsung meminta uang miliknya yang telah dirampas oleh anggota Polsek Moanemani tersebut.  Namun tanpa komentar dan penjelasan dari aparat Polisi di Polsek, petugas polisi tersebut segera menembakkan peluru tajam kearah Dominokus Auwe. Peluruh pertama mengenai dada, kemudian peluru dari tembakan kedua mengenai kepala. Saat itu juga Dominokus terjatuh dan tewas ditempat. Peluru tetap bersarang didalam dada dan kepala korban.
Saat itu ada pula para warga setempat yang berdiri maupun lewat disekitar kantor Polsek Moanemani. Setelah menembak Dominokus Auwe, aparat polisi tersebut kemudian menembak secara brutal kearah luar sehingga mengenai Albertus Pigai dibagian rusuk kanannya. Selain itu tembakan juga mengenai Vince Yobe di dadanya dan peluru lari menembus ketiaknya. Ketiga korban segera dilarikan ke Puskesmas Moanemani.
Tanggal 13 April 2011 sekitar pukul 12.00, Pihak Polsek Moanemani mengambil 2 korban penembakan yang terluka parah, yaitu Albert Pigai dan Vince Yobe untuk dilarikan ke RSUD Nabire. Setelah mendapatkan perawatan dan dipasangi infuse, korban mulai sadar. Setelah sadar, Vince Yobe yang ketakutan segera melarikan diri dari rumah sakit, sementara Albertus Pigai tetap dirawat dirmah sakit tersebut dalam keadaan kedua tangan diborgol di tempat tidur.
Pada hari yang sama, Tanggal 13 April 2011, satuan Brimob bersama Dalmas dari Nabire sebanyak 2 truk segera menuju ke Moanemani.sementara itu, warga yang mengetahui kejadian itu tidak dapat menerima tindakan aparat Polsek Moanemani tersebut. Warga kemudian membakar kantor Polsek Moanemani dan juga beberapa barak kios milik Dewa.  Kemudian warga menganiaya Kapolsek dan beberapa anggota Polsek. Karena hari sudah malam, warga kemudian menghentikan aksinya dan pulang ke rumah dan kampung masing-masing.
Pada tanggal 14 April 2011  sekitar pukul 8 00 pagi, ditemukan mayat ALWISIUS WAINE  ( 26)   di desa Ikebo dengan luka tembak di dada dan terbaring melintang di jalan.
Tanggal 14 April 2011 sekitar Jam 8.30 pagi, kedua mayat korban penembakan (Dominokus Auwe dan Alwisius Waine) di makamkan  di halaman Kantor Distrik Kamu selatan Puweta  .
Kemudian pada tanggal 14  April 2011 , sekitar Jam 12 00 Malam , sebanyak 5 truk Batalyon Timsus 753 dari Nabire juga tiba di  Moanemani.
Ditulis ulang berdasarkan  laporan Yones Douw, :  Kantor Keadilan dan Perdamaian Gereja KINGMI di Tanah Papua

komentar (3) | | Read More...

Video Kekerasan TNI Terhadap Orang Papua..!!!



Jayapura-Mengenai adanya video kekerasan yng terjadi di Papua oleh para TNI,kini tengah beredar luas di dunia maya. Video ini mempertontonkan kekerasan dan penyiksaan terhadap warga papua yng tak berdosa, yng diduga dilakukan oleh beberapa oknum TNI. Benarkah?

Video Kekerasan TNI Di Papua ini berdurasi 4 menit 47 detik itu beredar di situs Youtube 17 Oktober selama sehari hingga Senin siang 18 oktober. Namun kemudian video kekerasan TNI di papua itu dicabut dan muncul kembali dalam versi satu menit.
Dalam tayangan Video Kekerasan TNI Di Papua tersebut berjudul ‘Indonesian Army Attacking West Papuan Civilians in Highland Region’ yng menggambarkan sekelompok pria berpakaian seperti tentara memukul bertubi-tubi kepala korban dengan helm tentara, juga menendang secara tertubi-tubi pula.“Saya di sini berdasarkan tugas. Tugas negara,”

Teriak salah satu pelaku TNI yng melakukan kekerasan di papua dengan menggunakan bahasa Indonesia di dalam video tersebut. Sementara warga Papua yng lain dibaringkan di tanah tanpa pakaian, kaki dan tangan diikat, parang diletakkan di leher mereka dan terus di tanyai tentang tempat penyimpanan senjata milik kelompok separatis organisasi Papua Merdeka (OPM).

Disampaikan Kapuspen TNI, Mayor Jenderal TNI Aslizar Tanjung, saat ini TNI melakukan penyelidikan intensif tentang waktu, tempat, kebenaran dan keaslian video tersebut. Identifikasi dilakukan agar informasi tentang video itu tidak menyesatkan masyarakat luas baik dari Indonesia sendiri maupun luar negeri. Bila terbukti terdapat oknum TNI yng terlibat dalam video kekerasan TNI di papua tersebut, maka dipastikan pimpinan TNI akan mengambil tindakan tegas sesuai hukum yng berlaku.

Menurut Roy Suryo, pakar telematika Video Kekerasan TNI di Papua di ragukan keasliannya. Sejumlah hal yng meragukan dari tindak kekerasan dalam video tersebut antara lain dialog yng dilakukan sangat tidak sesuai. Kemudian tanda kepangkatan pada seragam pelaku yng letakny tidak sesuai dengan yng seharusny.
“Memang yang melakukan tindak kekerasan menggunakan baju loreng seperti halnya anggota TNI . Tapi dari hasil analisis saya, banyak hal yng sangat meragukan sehingga kebenaranny patut dipertanyakan,” Ungkapny.berikut linknya video tersebut “http://www.youtube.com/watch?v=gVUibPJq16U
komentar | | Read More...

Pakage: Indonesia Mau Orang Papua Mati Habis..!!!

Penulis : Unknown on Senin, 23 Juli 2012 | 06.58

Senin, 23 Juli 2012



Jayapura-Setelah kemarin, Kamis (19/7) aparat kepolisian membubarkan paksa aksi kemanusian untuk pengobatan tahanan politik (Tapol) yang diselenggarakan Solidaritas Korban Pelanggaran HAM Papua (SKPHP) di Jalan Raya Abepura, kini aparat kembali membuat ulah.

Tadi siang, Jumat (20/7) sekitar pukul 11.30 WIT, aparat Kepolisian Resort Kota Jayapura kembali membubarkan paksa aksi kemanusian yang dibuat SKPHP, dan mengangkut sekitar 15 orang peserta aksi beserta perangkat aksi dan di interogasi kurang lebih satu jam lamanya di Polresta.
Yusak Pakage, salah satu mantan tahanan politik Papua yang ikut diinterogasi polisi membenarkan tindakan polisi yang sangat brutal dan tidak manusiawi.

“Surat pemberitahuan aksi sudah dilayangkan ke polisi sejak beberapa hari lalu, namun pihak aparat sendiri sengata tidak menerbitkannya. Sama saja mereka tidak mau kami buat aksi amal  untuk pengobatan tahanan politik.

Aksi kami adalah aksi kemanusian, bukan aksi politik, ini yang perlu dipahami oleh aparat kepolisian di tanah Papua,” kata Pakage.

Pakage melanjutkan, Indonesia walaupun di kenal sebagai negara hukum dan demokrasi, semua itu hanya diatas kertas saja, sebab selama ini ruang demokrasi di tanah Papua ditutup sangat rapat.

“Tujuan pemerintah Indonesia adalah menghabisi orang Papua, salah satu contohnya walaupun tahanan politik sakit keras, namun tidak ada perhatian, artinya pemerintah Indonesia mau orang Papua mati habis,” ujar Pakage yang pernah dipenjara lima tahun lamanya.

Melihat situasi Papua yang semakin genting, Pakage justru meminta agar ada intervensi dunia internasional, dalam hal ini Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk dapat segera menyelesaikan persoalan Papua.

Selain itu, Pakage juga mengajak siapa saja yang mempunyai rasa kemanusiaan untuk membantu para Tapol, salah satunya seperti Filep Karma yang mengalami sakit parah di LP, namun tidak punya uang untuk berobat ke RS Cikini di Jakarta.

Kapolresta Jayapura, AKBP Alfred Papare, S.Ik, ketika dikonfirmasi wartawan terkait pembubaran paksa aksi SKPHP di Taman Imbi, tidak bersedia memberikan tanggapan. Pesan singkat yang dikirim juga tidak dibalas.

OKTOVIANUS POGAU
komentar | | Read More...

Blogger news

Categories

About

Blogroll

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. majalah Papua . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger